Dealer Honda Tunas Dwipa Matra Bandung

Jl. Raya Gadobangkong No. 70 Ngamprah - Bandung Barat. Melayani Cash & Kredit Seluruh Wilayah Bandung, Kab.Bandung, Kab.Bandung Barat & Cimahi.

Menu

Novel, Menghapus Jejak Kelam

Rabu, Januari 29th 2020.

Judul : Menghapus Jejak Kelam
#Faiz_Alfatih_01 Part 14

Faiz menyandarkan diri pada dinding kamar Senja. Tubuhnya goyah, kemudian membenamkan wajah pada lutut yang ditekuk. Hembusan napas tidak beraturan tanda keresahan. Dia bingung mencari ke mana Senja pergi. Ditambah tadi Faiz lihat dapur yang acak-acakan, membuat dia merasa khawatir.

Faiz mulai pergi dari situ. Faiz teringat, ayahnya melarang ia berhubungan dengan Senja. Bisa jadi, ayahnya tahu sesuatu, atau bahkan, penyebab kepergian Senja.

Faiz mengirim pesan singkat pada ayahnya, mengajak sang Ayah untuk bertemu. Lumayan lama mendapat balasan, hingga notifikasi ponsel berbunyi, dan terlihat pesan dari ayahnya masuk.

[Ayah ada di rumah kamu, kemarilah!]

[Faiz sedang menuju ke sana, yah.]

Faiz mengemudi menuju rumahnya, memang dia dari Jakarta tidak langsung pulang ke rumah, mana tahu bahwa ayahnya berada di situ. Ya, kali ini waktu Faiz memang tersita di jalan, apalagi dengan keadaan lalu lintas yang padat. Beberapa kali Faiz memukuli stir merasa urusannya terhambat hanya karena sedikit macet.

“Sialan!” umpat Faiz, pada pengendara motor yang menyalip sembarangan.

Beberapa saat kemudian, Faiz sampai di rumah. Langkahnya tergesa-gesa, akan tetapi raut wajah yang sedang resah dia sembunyikan di depan Ayah. Faiz tidak berani hanya sekedar memasang muka masam di depan ayahnya yang galak.

“Ayah!” sapa Faiz pada Pak Mahesa.

Terlihat Pak Mahesa sedang mengolesi selai nanas pada roti tawar dengan mimik santai.

“Kenapa? duduk dulu, Faiz! kamu mau Ayah buatkan roti juga?” tanya Pak Mahesa, kemudian dia memakan roti buatannya.

Faiz melangkah menuju mini bar dapurnya, lalu duduk berhadapan dengan pak Mahesa.

“Wajah kamu kenapa resah?” tanya Pak Mahesa.

Sepertinya Faiz gagal menutupi rautnya, tetap saja Ayah tahu isi hatinya. Sementara itu, Pak Mahesa masih asyik mengolesi roti, lalu diberikannya pada Faiz.

“Ini, makan!” titah Pak Mahesa.

“Faiz tidak lapar, Faiz ingi tanya sesuatu sama Ayah!”

“Apa?” tanya Pak Mahesa, kemudian memakan dengan lahap roti yang ditolak Faiz.

Faiz menunduk, masih ragu-ragu untuk bicara. Dia butuh lebih banyak menghirup oksigen jika berhadapan dengan ayahnya.

“Emm … Apa Ayah menemui Senja? dia tidak masuk kerj hari ini dan kontrakannya kosong, dia sudah pergi. Lalu … dapurnya pun begitu berantakan.”

Pak Mahesa terdiam, wajahnya begitu datar. Faiz tidak mampu menerjemahkan raut wajah ayahnya itu. Akan tetapi selang beberapa menit Pak Mahesa tersenyum angkuh.

“Kamu kira Ayah kurang kerjaan menemui wanita seperti dia? Ayah terlalu sibuk untuk mengurusi hal seperti itu.”

Faiz terdiam, dia mengerutkan dahi. Terbersit dalam pikirannya bahwa Senja pergi atas kemauan sendiri, untuk menghindari dirinya.

“Harusya Ayah yang introgasi kamu, jadi selama ini kamu sering ke rumah Senja? Kamu kan sudah Ayah larang, sudah juga dikasih saran yang bagus, untuk memperbaiki hubungan dengan Vanessa. Matamu buta, ya? tidak tahu mana berlian dan mana sampah?”

“Ya sudah, jika Ayah tidak tahu, tidak usah menghinanya seperti itu. Jangan suka menghakimi orang, kita juga bukan orang yang baik.”

” Oh … rupanya sudah berani melawan orang tua sekarang, ya?”

Faiz terdiam kembali, dia tidak ingin berdebat dengan ayahnya sendiri. Lagi pula pendapat ayahnya itu sulit untuk dipatahkan.

“Faiz permisi dulu!” Faiz beranjak dari duduknya.

“Tunggu!”

Faiz yang tadinya melangkah pergi, menjadi urung. Tubuhnya kembali menghadap pada ayahnya. “Kenapa, Yah?”

“Ya ampun, kamu baru sampai sudah mau pergi lagi. Apa seperti itu cara kamu bersilaturahmi? tidak sopan!”

“Maaf Ayah, bukan maksud seperti itu. Faiz buru-buru, lain kali Faiz temenin Ayah ngobrol dan ngopi.”

“Buru-buru kemana? toko dalam keadaan stabil, urusan bisnis kamu kan sudah seharai kemarin bertemu staff purchasing dari Tri Golden. Lantas hari ini ada agenda apa? mencari Senja?”

“Tidak, bukan mencari Senja,” jawab Faiz berbohong.

“Kamu ini, diam-diam jadi bucin wanita sep ….”

“Stop! Sudah aku bilang kan, jika ayah tidak suka dia, tolong jangan menghina!” Faiz memotong ucapan ayahnya.

Ayah dan anak itu sama-sama terdiam. Raut angkuh Pak Mahesa tidak memudar, sementara Faiz dengan kerutan di dahi ditambah wajah cemasnya. Faiz terlalu lelah mendengar orang yang dia sukai dihina terus menerus. Apalagi yang menghinanya adalah orang yang sangat dia hormati.

Sejujurnya, Pak Mahesa juga tidak merasa tenang di dalam hatinya. Dia takut kelakuan jahat pada Senja akan terbongkar. Pak Mahesa tidak ingin hal itu membuat citranya menjadi buruk, yang dia tahu saat itu alkohol membuat dirinya menjadi terlalu berani untuk bertindak yang tidak-tidak.

“Faiz janji, jika urusan Faiz selesai akan temui Ayah kembali. Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam,” jawab Pak Mahesa.

Pak Mahesa masih menatap anaknya ke luar dari tempat mereka berbincang tadi. Dia memejamkan mata, lalu tiba-tiba menggebrak meja. Hal itu tidak mungkin dia perlihatkan di hadapan Faiz.

“Hah … Senja! sialan kamu, wanita murahan yang pura-pura baik, ditanya tarif malah gak jawab, wanita munafik!” gumam Pak Mahesa.

Tiba-tiba Pak Mahesa menendang meja. Merasa otaknya mendidih.
***

Senja tidak bisa pergi terlalu jauh, dia tidak memiliki ongkos untung mengungsi ke luar kota. Dia pinda dari Karawang Barat menuju Karawang Timur, tepatnya di Kecamatan Cikampek. Sempat terpikir untuk pulang ke Jati Negara, akan tetapi dia sudah tidak betah di sana. Bully dari tetangga lebih parah dari pada di tempatnya bekerja kemarin. Senja hanya butuh ketenangan hati.

Beruntung kontrakan di tempat itu murah-murah tidak seperti di Karawang Kota.

Akan tetapi, harga sesuai dengan keadaan. Kontrakan yang murah itu, tidak di fasilitasi kasur dan lemari, semua harus beli sendiri. Tentu saja uang yang dipegang Senja kurang jika harus beli sekalian perabot. Mungkin hari ini Senja harus rela tidur beralaskan tikar.

Air di kamar mandi mengalir begitu kecil dan macet, senja pusing dibuatnya. Untuk sekedar mengepel saja airnya kadang ada kadang tidak. Di tambah dengan tidak ada kipas angin, padahal suhu sangat panas.

Senja membeli kertas polio untuk menulis lamaran pekerjaan. Dia mulai memasukan lamaran via pos juga lewat disnaker.

Tubuhnya seharian ini lelah, merapikan kontrakan baru dan menulis hingga mengirim lamaran. Dia sandarkan tubuh rampingnya pada kamar kontrakan yang hanya beralas tikar. Tubuhnya goyah, dan dia berbaring dan terlelap tidur pada tikar itu.
***

Senja merasakan pegal di bagian leher dan punggung akibat tidur dalam posisi yang tidak baik. Dia terbangun dan merasakan harinya begitu hampa.

Semalam, dia bermimpi Faiz memintanya memasak masakan kesukaan Faiz. Dia rindu pada Faiz, akan tetapi sudah tidak mungkin bersama saat dia mengingat perlakuan Pak Mahesa pada dirinya.

Perut yang belum terisi sejak semalam begitu lapar, Senja mencoba mencari sarapan ke luar.

Tidak sulit menemukan sarapan dengan harga terjangkau, seperti bubur ayam, ketoprak, lontong sayur. Senja tergoda untuk mencicipi ketoprak dengan bumbu kacang kental.

Dia duduk dan memesan. sembari menunggu dia menghubungi temannya sekedar curhat dan meminta bantuan, mungkin temannya memiliki uang simpanan, yang bisa ia pinjam hingga dirinya mempunyai pekerjaan.

Ditengah Senja sedang berkeluh kesah pada temannya lewat WA, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Faiz. Panggilan yang Senja hindari dari kemarin. Senja tahu Faiz menghubungi tapi dia hiraukan.

Bertemu Faiz sama saja dengan membuka kenangan lama yang buruk. Walau pun Faiz sudah memaklumi kehidupan kelam Senja di masa lalu. Akan tetapi orang-orang di sekitar Faiz selalu mengungkitnya.

Dering telepon terus saja berbunyi berulang, sudah puluhan panggilan tak terjawab sejak pagi. Belum lagi ditambah kemarin.

Senja melihat ada note voice dari Faiz. Senja menekan tombol putar agar tahu isinya.

“Senja, aku cari kamu ke mana-mana tidak ada, bahkan ke rumah orang tua kamu pun sama tidak ada. Kemana kamu sebenarnya? jika kamu tidak ingin bertemu denganku, coba bilang padaku lewat chat, jika kamu baik-baik saja. Terakhir aku lihat dapur mu berantakan. Aku hanya takut ada seseorang yang melukaimu.”

Senja mengigit bibir bawah. Dia menghapus air matanya yang perlahan mengalir. Lalu mulai mengetik pesan singkat pada Faiz.

“Aku baik-baik saja, dan maaf jika tidak bisa menemui Mas Faiz. Terlalu bnyak kenangan yang harus dihapus. Aku hanya ingin hidup tenang. Terimakasih sudah baik sekali padaku.”

Setelah memastikan pesan itu centang dua warna biru. Senja lalu memblokir nomer Faiz. Padahal, sempat Senja melihat keterangan mengetik pada ponsel, dia tidak ingin balasan dari Faiz mengoyahkan niatnya.
***

Beberapa bulan berlalu, Senja bisa melewati harinya tanpa Faiz.

Sulit ternyata untuk mendapatkan pekerjaan, mayoritas di Karawang harus menggunakan uang sogokan, Senja mana punya uang.

Namun, Rizky seseorang sudah di atur oleh Allah. Meski lamarannya tidak ada panggilan, Senja masih memiliki penghasilan menjadi reseler usaha temannya. Ya, teman yang saat itu Senja menghubungi dan hendak dipinjami uang.

Senja menjual beberapa produk kecantikan, seperti make up dan masker wajah. Di sekitra kontrakannya yang baru, kebetulan kebanyakan karyawati pabrik yang berpenghasilan lumayan. Senja dengan mudah mendekati mereka, dengan sifat ramah yang dia miliki, untuk mencoba berniaga.

Wajah Senja berbinar, walau penghasilannya tidak banyak. Hidup tanpa gunjingan dan cacian dari orang, ternyata membuat hatinya merasa tentram.

Akan tetapi, rasa rindu pada seseorang yang dia abaikan, ternyata tidak pernah pudar.

Bersambung

Related Article Novel, Menghapus Jejak Kelam

Kamis 13 Februari 2020 | Novel

Malaikat Bercadar Oleh : Irene Radjiman Inara baru saja pulang dari sharing di sebuah kajian di kota B. Seperti biasa ia selalu ditemani oleh suaminya.…